Sumbawa Besar, Laskarmerdeka.com —
Transformasi sektor peternakan berbasis teknologi mulai digagas di Kabupaten Sumbawa melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Sumbawa Digital Ranch: Sistem Peternakan Sapi Umbaran Berbasis AI-LoT dengan Integrasi Marketplace Investasi Ternak Digital dan Smart Livestock Tourism” yang berlangsung di Aula Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sumbawa Rabu (20/05/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Konsorsium dari Universitas AMIKOM Yogyakarta, Prof. Kusrini, bersama tim peneliti dan akademisi dari konsorsium perguruan tinggi yang terdiri atas Universitas Teknologi Sumbawa dan ITB STIKOM Bali.
Kegiatan ini juga melibatkan kemitraan dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sumbawa dalam rangka diskusi, pemetaan kebutuhan, sekaligus uji coba awal penerapan teknologi peternakan modern di Sumbawa.
Dalam pemaparannya, Prof. Kusrini menjelaskan bahwa kedatangan tim dari Yogyakarta merupakan bagian dari program yang mendapat dukungan kementerian untuk mengembangkan sistem peternakan sapi umbaran berbasis Artificial Intelligence dan Internet of Things (AI-LoT).
“Kami jauh-jauh datang ke Sumbawa dan alhamdulillah mendapat dukungan dari kementerian. Kami juga diberikan fasilitas pengadaan beberapa peralatan yang nantinya digunakan untuk eksperimen dan uji coba pengembangan sektor peternakan sapi umbaran berbasis AI-LoT yang terintegrasi dengan marketplace investasi ternak dan smart livestock tourism,” ujarnya.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya berorientasi pada penelitian akademik, tetapi juga diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi peternak, pemerintah daerah, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
Ia menegaskan bahwa teknologi yang dikembangkan harus disesuaikan dengan kebutuhan riel peternak di Kabupaten Sumbawa. Karena itu, dalam FGD tersebut peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok diskusi yang melibatkan dinas terkait, peternak, hingga tenaga kesehatan hewan.
“Kami ingin mendengar langsung kebutuhan para peternak, bagaimana kebijakan dari dinas, termasuk masukan dari dokter hewan terkait kesehatan ternak, sehingga teknologi yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan,” ujarnya.
Prof. Kusrini menambahkan, Sumbawa dipilih karena memiliki karakteristik peternakan sapi umbaran yang khas dan berpotensi besar untuk dikembangkan secara digital. Sebelum pelaksanaan FGD, tim peneliti telah melakukan observasi di sejumlah lokasi peternakan seperti Sebasang dan Lenangguar yang memiliki karakteristik peternakan berbeda.
Dalam konsep Sumbawa Digital Ranch, terdapat beberapa sistem utama yang akan dikembangkan, salah satunya Animal Intelligent System yang memungkinkan ternak dipantau secara digital menggunakan perangkat AI-LoT.
Melalui teknologi tersebut, kondisi sapi dapat dipantau secara real-time, mulai dari suhu tubuh, pergerakan, hingga posisi GPS. Sistem juga dirancang mampu membatasi area jelajah ternak secara virtual agar tidak melewati batas tertentu.
Selain itu, tim peneliti turut mengembangkan perangkat pengendali jaringan dan komunikasi lapangan yang mampu menjangkau area luas untuk mendukung sistem peternakan umbaran. Teknologi tersebut nantinya dipadukan dengan kamera pemantau, sistem tenaga listrik lapangan, serta dashboard pengawasan digital.
Teknologi lain yang diperkenalkan adalah sistem deteksi berat badan sapi menggunakan kamera ponsel berbasis AI. Sistem ini memungkinkan peternak mengetahui estimasi berat dan volume tubuh sapi secara otomatis tanpa penimbangan manual.
“Setiap sapi nantinya dipasangi identitas digital. Ketika melewati titik tertentu, sistem akan langsung membaca data ternak tersebut. Berat badan, pertumbuhan, hingga estimasi waktu panen atau pemotongan dapat dipantau otomatis melalui dashboard,” jelasnya.
Tidak hanya itu, tim peneliti juga tengah mengembangkan teknologi pengenalan wajah sapi berbasis AI untuk membantu identifikasi kepemilikan ternak sekaligus mempermudah pengawasan harian di lapangan.
Selain pengembangan teknologi peternakan, program ini juga akan diintegrasikan dengan marketplace investasi ternak digital yang memungkinkan masyarakat berinvestasi di sektor peternakan secara modern dan transparan. Konsep tersebut dipadukan dengan pengembangan smart livestock tourism atau wisata peternakan digital yang diharapkan mampu menjadi nilai tambah ekonomi baru bagi Kabupaten Sumbawa.
Melalui kegiatan FGD ini, diharapkan terbangun kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, peternak, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem peternakan modern berbasis teknologi tanpa meninggalkan karakteristik peternakan tradisional khas Sumbawa.(AM01)


0Komentar