Sumbawa Besar, Laskarmerdeka.com -
Perusahaan besar berstandar Nasional maupun Internasional yang dipercayakan mengelola pertambangan sekelas PT Amman Mineral Nusa Tenggara {AMMAN] misalnya, tentu dalam menjalankan kegiatan operasionalnya penting dan sangat membutuhkan yang namanya Moda Transportasi Darat, Laut dan Udara dalam rangka menunjang berbagai program yang dilaksanakan di kawasan pertambangan, seperti di pertambangan Batu Hijau Project yang berada di Kabupaten Sumbawa Barat NTB dan kini dikelola AMMAN.
Dalam menunjang kegiatan operasionalnya di darat, mulai dari kegiatan di Benete Portsite, Townsite, Smelter, Sejorong maupun di Mining dan Pett, berbagai jenis kendaraan roda empat, bus angkutan pekerja hingga kendaraan berat haul truck yang mengangkut bahan material tambang berseliweran di Kawasan tambang Batu Hijau Project. Ini menunjukan betapa pentingnya moda transportasi darat dalam memperlancar berbagai kegiatan yang dilaksanakan setiap hari di Kawasan tersebut.
Begitu pula moda transportasi laut yang berpusat dikawasan Benete Portsite, aktivitas setiap hari seperti Pelabuhan umum lainnya juga terlihat aktivitas kesibukan bongkar muat barang dari sejumlah kapal besar yang membawa dan mengangkut berbagai bahan material yang dibutuhkan, bahkan dengan keberadaan kapal cepat, para penumpang {pekerja} baik yang datang dan pergi dari Pelabuhan Benete menuju Pelabuhan Kayangan Lombok Timur dinilai sangat memberikan kontribusi bagi kelancaran para pekerja saat Off Kerja {masa libur} pulang ke Mataram dan sebaliknya saat masuk kembali bekerja.
Sedangkan moda transportasi udara, dengan keberadaan Bandara Amman di Kawasan Kiantar Poto Tano, juga dinilai sangat penting dan dimanfaatkan untuk memperlancar aktivitas pertambangan, sejumlah petinggi Amman,Expatriat, pekerja dan para tamu penting yang mendapatkan izin khusus juga kerapkali datang dan pergi melalui Bandara Kiantar tersebut, yang terintegrasi dengan Bandara Zainuddin Abdul Majid {ZAM} Lombok maupun Bandara Ngurah Rai Denpasar Bali.
*MODA TRANSPORTASI
Kapal Cepat Amman adalah moda transportasi laut khusus yang dioperasikan oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) untuk menghubungkan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Armada utamanya (seperti Blue Sea Jet 1) melayani rute Pelabuhan Kayangan (Lombok Timur) menuju Pelabuhan Benete (Sumbawa Barat).
Layanan ini dirancang dengan standar keselamatan dan kenyamanan tinggi untuk mendukung mobilitas karyawan, mitra bisnis, serta kelancaran operasional pertambangan Batu Hijau. Perjalanan melintasi Selat Alas ini biasanya memakan waktu sekitar 1 hingga 1,5 jam.
Sementara Bandara Amman Mineral (Bandara Kiantar) di Desa Kiantar, Kecamatan Poto Tano, Sumbawa Barat, mulai dibangun pada akhir 2022 oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Proyek senilai Rp 390 miliar ini dinyatatkan rampung pada 2025 dan dinyatakan layak beroperasi pada Maret 2026 untuk mendukung konektivitas dan ekonomi.
Fasilitas ini dibangun melalui anak usaha PT Amman Aviasi Indonesia dengan panjang landasan pacu sepanjang 1.500 meter, taxiway, dan apron di atas lahan seluas 72,2 hektare.
Meskipun secara operasional perusahaan tidak secara mutlak memerlukan bandara, pembangunan ini ditujukan sebagai roda penggerak ekonomi berkelanjutan di wilayah Kabupaten Sumbawa Barat, dengan konstruksi sisi darat dan sisi udara dikerjakan oleh kontraktor PT PP (Persero) Tbk. dan didukung oleh kesiapan infrastruktur kelistrikan dari PLN.
Pada awal 2026, bandara ini telah mengantongi sertifikat kelayakan dan dalam proses peningkatan status menjadi bandara yang dapat melayani penerbangan khusus serta umum.
Keberadaan Bandara AMMAN ini mendapatkan perhatian dari Gubernur NTB Dr.H.Lalu Muhammad Iqbal Ketika melakukan kunjungan 13 Maret 2026 lalu didampingi Bupati Sumbawa Barat H.Amar Nurmansyah ST.MSi, mengungkapkan bahwa secara teknis bandara tersebut telah dinyatakan layak beroperasi dan telah mengantongi sertifikat kelayakan.
Saat ini, proses yang tengah berjalan adalah peningkatan status dari bandara khusus menjadi bandara yang dapat melayani penerbangan khusus sekaligus penerbangan umum. Langkah ini diharapkan menjadi pintu pembuka bagi konektivitas transportasi udara baru di Kabupaten Sumbawa Barat.
Bahkan, Gubernur Iqbal berharap kedepan akan ada penerbangan langsung dari bandara tersebut menuju kota-kota besar seperti Surabaya maupun Denpasar, karena dinilai rute tersebut akan mempermudah akses wisatawan menuju berbagai destinasi di daerah serta mempercepat mobilitas masyarakat.
Selain pariwisata, pembukaan rute penerbangan juga diyakini akan memperkuat konektivitas perdagangan, terutama dengan Surabaya yang selama ini menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat Pulau Sumbawa.
Bandara dengan kode internasional PNW ini dinilai sangat strategis karena lokasinya relatif dekat dengan pusat pemerintahan daerah sehingga mudah dijangkau masyarakat, sekaligus diharapkan dapat memperlancar distribusi logistik dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
*PERSPEKTIF MASA DEPAN BANDARA LUNYUK SUMBAWA
Pasca tuntas dibangunnya Smelter, maka sejak Juni 2026 lalu, aktivitas Amman di Batu Hijau Project lebih focus kepada kegiatan fase tahap akhir pemurnian biji emas dari sisa stockfiel material tambang yang diperkirakan habis sekitar tahun 2030 mendatang, untuk kemudian dilanjutkan dengan tahapan reklamasi tambang Batu Hijau, dan melanjutkan kegiatan eksploitasi tambang tembaga dan emas di Kawasan Dodo Rinti Kabupaten Sumbawa, dengan kandungan cadangan mineral yang cukup besar.
Jika nanti seluruh aktivitas utama kegiatan eksploitasi tambang dipusatkan dikawasan Dodo Rinti Sumbawa, maka tentu kedepan dampak multi effect player dari keberadaan Amman akan terasa, baik dari adanya Pembangunan sejumlah sarana prasarana dan fasilitas penunjang maupun terbukanya lapangan kerja dan dampak ekonomi bagi Masyarakat, termasuk pemanfaatan moda transportasi dengan segala aktivitasnya.
Namun, dengan melihat perspektif kedepan dari keberadaan Bandar Udara di Kecamatan Lunyuk yang sudah puluhan tahun tidak digunakan seiring dengan aktivitas Amman dikawasan Dodo Rinti tersebut nantinya, akankah Bandara Lunyuk dihidupkan Kembali, tentu ini akan menjadi kajian dan telaah dari Pemprov NTB, Pemkab Sumbawa maupun pihak Amman itu sendiri.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal bersama rombongan dari Pemprov NTB, serta tim eksternal pemerintahan, termasuk salah satunya hadir Direktur Eksekutif Matadata Institute, Nurdin Ranggabarani SH MH {tokoh Sumbawa}. saat mengunjungi Bandar Udara Lunyuk Kabupaten Sumbawa pada 9 Mei 2026 lalu, yang doeloe nya Bandara tersebut sempat digunakan sebagai pangkalan Bantuan Logistik Pasca Gempa tahun 1977.
Bandar Udara Lunyuk ini sendiri terletak di wilayah Kecamatan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, dan memiliki landasan pacu 850 x 45 meter, dengan panjang landasan pacu (run way) Bandara Lunyuk 17/35 berukuran 2.960 x 90 meter (9.711 ft × 295 ft), dengan lebar 45 meter permukaan beton mulai 23 Juli 2014.
Dengan potensi sumberdaya alam yang dimiliki Kabupaten Sumbawa melimpah tentu sangat membutuhkan aksesibilitas yang refresentatif agar komoditi di daerah ini bisa ditingkatkan nilai jualnya serta perputaran ekonomi juga semakin baik.
Bahkan, dengan moda transprortasi yang dimiliki Sumbawa, baik itu Bandar Udara Sultan Muhammad Kaharudin III, Pelabuhan Badas dan Pelabuhan Alas, juga terdapat satu akses Bandara Perintis yang berada di wilayah Kecamatan Lunyuk, sehingga jika Bandara Lunyuk ini dhidupkan dan dioperasionalkan kembali, optimis kedepan akan memiliki efektifitas dan efesiensi serta menjadi daya tarik bagi para investor dan wisatawan untuk berkunjung maupun berinvestasi ke wilayah Selatan Sumbawa tersebut.
“Jika bandara perintis ini dapat dihidupkan, maka dapat mempercepat pergerakan orang, angkutan barang dan jasa, guna percepatan akses pembangunan perekonomian wilayah selatan Kabupaten Sumbawa," ujar Nurdin Ranggabarani.
Untuk diketahui, Bandara Perintis Lunyuk ini telah lama terdaftar di asosiasi transportasi udara internasional atau International Air Transport Association (IATA) dengan Kode LYK dan juga terdaftar di organisasi penerbangan sipil internasional atau International Civil Aviation Organization (ICAO) sebuah lembaga penerbangan sipil di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan Kode : WADU, dan Bandara sipil ini dapat didarati oleh pesawat berbaling jenis Cassa 212 atau pesawat sejenis lainnya.{*}


0Komentar