TfC0GSY7TpM8TUM0TpOlBSr8Td==

Breaking News:

Tasyakur bin Ni’mah 15 Tahun Penobatan Sultan Sumbawa, Bupati H. Jarot Hidupkan Falsafah “Balong Ai Kayu, Mole Pade Antap, Telas Kebo Jaran” sebagai Penjaga Keseimbangan Tau Samawa


Sumbawa Besar, Laskarmerdeka.com —

Tasyakur bin Ni’mah memperingati 15 tahun penobatan Sultan Sumbawa XVIII sekaligus Malikelis ke-85 tahun yang digelar di Bala’ Kuning Sumbawa, Minggu malam (5/4/2026), berlangsung khidmat dan sarat makna. Momentum ini tidak hanya menjadi penanda perjalanan sejarah sejak penobatan pada 5 April 2011, tetapi juga ruang refleksi untuk meneguhkan kembali nilai-nilai dasar Tau Samawa di tengah dinamika zaman.

Acara tersebut dihadiri Bupati Sumbawa beserta Ketua TP PKK Kabupaten Sumbawa, Bupati Sumbawa Barat, Wakil Bupati Sumbawa beserta Ketua GOW, Sekda Sumbawa, pimpinan DPRD, jajaran Forkopimda, mantan Bupati Sumbawa periode 2000–2005, mantan Ketua DPRD, kepala perangkat daerah Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat, pimpinan dan pengurus Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) serta LATS Kamutar Telu, para tetua adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Rangkaian acara diawali dengan dzikir dan do'a bersama yang dipimpin oleh Dea Guru Syukri Rahmat, S.Ag., M.M.Inov menghadirkan suasana religius yang memperkuat makna syukur atas perjalanan panjang Kesultanan Sumbawa sebagai penjaga nilai dan identitas budaya.


Dalam orasi kebudayaannya, Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP menegaskan bahwa peringatan ini tidak boleh berhenti sebagai seremoni, tetapi harus dimaknai sebagai titik temu antara sejarah, nilai, dan tanggung jawab. Ia mengingatkan bahwa penobatan Sultan Sumbawa sejak awal bukan untuk menghidupkan feodalisme, melainkan sebagai upaya memperkokoh marwah Tau Samawa serta memastikan nilai-nilai luhur tetap hidup di tengah perubahan zaman.


Bupati Jarot menempatkan falsafah balong ai kayu, mole pade antap, telas kebo jaran sebagai inti dari cara pandang Tau Samawa dalam menjaga keseimbangan kehidupan.

Ia menjelaskan bahwa balong ai kayu mengandung kesadaran bahwa air dan hutan merupakan penyangga utama kehidupan yang harus dijaga sebagai amanah. Mole pade antap mengajarkan sikap kehati-hatian dalam mengelola sumber daya, tidak berlebihan dan tetap dalam batas kesadaran moral. Sementara telas kebo jaran menegaskan bahwa kesejahteraan manusia tidak bisa dipisahkan dari keseimbangan makhluk hidup lain dan lingkungan yang menopangnya.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut tidak lahir dari kesepakatan semata, tetapi berakar pada kesadaran ketuhanan yang menjadi fondasi kehidupan Tau Samawa. Dalam hal ini, prinsip taket ko nene, kangila boat lenge—takwa kepada Tuhan dan malu berbuat salah—menjadi landasan moral yang mengikat hubungan manusia dengan alam dan sesamanya.


Ia juga menyoroti tantangan kebudayaan saat ini, di mana nilai sering kali terpisah dari praktik. Dalam sistem modern yang menekankan angka, indikator, dan prosedur, nilai kerap hanya menjadi slogan tanpa ruh. Karena itu, Bupati menegaskan pentingnya menghadirkan nilai dalam kebijakan dan praktik nyata. Falsafah balong ai kayu harus tercermin dalam tata ruang dan perlindungan lingkungan, mole pade antap dalam pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, dan telas kebo jaran dalam pola pembangunan yang menjaga keseimbangan antara manusia, ternak, dan ekosistem.


Pada kesempatan yang sama, titah Sultan Sumbawa XVIII Sultan Muhammad Kaharuddin IV yang disampaikan oleh Dr. KH. Lalu Muhammad Zulkifli Muhadli menyampaikan permohonan maaf karena Sultan tidak dapat hadir secara langsung karena alasan kesehatan, disertai penghormatan tulus kepada seluruh hadirin.

Dalam titah tersebut ditegaskan bahwa keberadaan kesultanan memiliki makna penting sebagai kebanggaan sejarah (historical pride) dan sebagai payung budaya agar nilai-nilai asli Tau Samawa tidak tercerai-berai. Prinsip adat barenti ko syara’, syara’ barenti ko kitabullah kembali ditekankan sebagai pegangan moral dalam kehidupan masyarakat.

Lebih jauh disampaikan bahwa Tau Samawa saat ini hidup dalam keberagaman layaknya “salad bowl”, di mana setiap unsur tetap memiliki identitasnya, namun tetap berada dalam satu rasa dan wadah yang sama sebagai Samawa. Dalam situasi dunia yang penuh ketidakpastian, masyarakat diingatkan untuk tetap teguh, jernih, dan tidak mudah goyah oleh berbagai provokasi.


Sementara itu, Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah ST., MM dalam sambutannya menegaskan kebanggaan sebagai Tau Samawa. Ia menyampaikan bahwa meskipun Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat telah terpisah secara administratif, keduanya tetap satu jiwa dalam identitas budaya. Ia juga menyoroti tantangan generasi saat ini yang dihadapkan pada berbagai persoalan sosial seperti judi online, pinjaman online, dan praktik-praktik yang menggerus nilai moral, sehingga penguatan falsafah hidup Tau Samawa menjadi semakin relevan, bahkan telah diformalkan dalam kebijakan daerah sebagai upaya perlindungan generasi.


Peringatan ini pada akhirnya tidak hanya menjadi pengingat sejarah, tetapi juga penegasan arah kehidupan Tau Samawa kedepan. Bupati H. Jarot menegaskan bahwa pemerintah akan berdiri di depan untuk memastikan nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi wacana, tetapi hidup dalam kebijakan, terjaga dalam tata ruang, dan menjadi dasar dalam setiap keputusan pembangunan.

Ia menutup orasinya dengan ajakan agar momentum 15 tahun penobatan ini menjadi titik balik kebangkitan nilai Tau Samawa, dengan menghidupkan kembali kesadaran spiritual, tanggung jawab terhadap alam, serta integritas dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, falsafah balong ai kayu, mole pade antap, telas kebo jaran tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi benar-benar menjadi penjaga keseimbangan kehidupan Tau Samawa di masa kini dan masa depan.(AM01)

Daftar Isi

0Komentar

Formulir
Tautan berhasil disalin