Sumbawa Besar, Laskarmerdeka.com -
Sumbawa kini dilanda musim penghujan dengan intensitas tinggi, karena itu warga Sumbawa diminta untuk lebih waspada terjangkiti penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), karena sepanjang 2025 ini tercatat ada 444 Kasus DBD yang terjadi didaerah ini.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa H Sarip Hidayat SKM MPH dalam keterangan Persnya, Senin (06/04/2026) menyatakan hingga saat ini kasus Deman Berdarah (DBD) yang terjadi di Kabupaten Sumbawa, alhamdulillah telah mengalami penurunan, namun warga masyarakat diminta untuk mewaspadai terjadinya penyakit campak, menyusul dua daerah tetangga kita (Kabupaten Bima dan Dompu) kini tengah menangani kasus campak.
Dijelaskan, dari hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan selama kurun waktu tiga bulan terakhir Januari - Maret 2026 tercatat ada 105 kasus DBD yang terjadi di Kabupaten Sumbawa, terbanyak di Kecamatan Empang dengan 29 kasus, menyusul Kecamatan Plampang 18 kasus, Moyo Hilir 11 kasus, Buer, Sumbawa Unit II dan Alas Barat masing-masing 7 kasus, Labuhan Badas Unit I ada 6 kasus, Moyo Utara dan Tarano 4 kasus, Lopok, Maronge dan Sumbawa Unit 1 masing-masing 2 kasus, Alas, Batulanteh, Moyo Hulu dan Unter Iwes masing-masing 1 kasus, sedangkan 10 Kecamatan lainnya Labangka, Lantung, Lape, Lenangguar, Lunyuk, Orong Telu, Rhee, Ropang, Utan dan Labuhan Badas Unit II mengalami 0 (Zero) kasus DBD, paparnya.
"Kasus DBD yang terjadi di Kabupaten Sumbawa selama triwulan pertama tahun 2026 ini tertinggi terjadi pada bulan Januari dan Februari sebanyak 94 kasus hingga menurun pada Maret hanya ada 11 kasus, dengan penanganan cepat dilakukan oleh fasilitas pelayanan kesehatan setempat serta adanya kesadaran masyarakat untuk lebih meningkatkan dan menjaga kebersihan lingkungan dan rumah tangga masing-masing, dengan menerapkan pola 3 M untuk antisipasi DBD adalah Menguras,
Menutup, dan Mendaur ulang barang bekas yang bisa menampung air, serta ditambah langkah "Plus" untuk mencegah gigitan nyamuk. Langkah-langkah ini bertujuan memberantas sarang nyamuk dan melindungi diri dari gigitan," ujar H.Sarip Hidayat.
Pola 3M ini penting diterapkan sebagai langkah antisipasi terang Sarip Hidayat, yakni Menguras: Menguras tempat penampungan air seperti bak mandi, ember, vas bunga, dan wadah lain yang tidak dipakai setiap minggu untuk mencegah nyamuk bertelur.
Menutup: Menutup rapat semua tempat penampungan air, seperti tempat penampungan air dan toren, agar nyamuk tidak bisa masuk dan bertelur di dalamnya.
Mendaur ulang: Mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air, seperti ban bekas, botol plastik, atau kaleng, agar tidak menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk, tukasnya.
"Kendati kasus DBD telah menurun, namun warga masyarakat diminta tetap waspada, apalagi dengan adanya peralihan musim terutama yang perlu diwaspadai saat ini adalah penyakit campak dan Inspeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), karena itu penting dilakukan imunisasi dan pemeriksaan kesehatan rutin, olahraga yang teratur untuk menjaga imunisasi tubuh tetap terjaga dengan baik," pungkasnya.(AM01)




0Komentar