TfC0GSY7TpM8TUM0TpOlBSr8Td==

Breaking News:

Aksi Demo Damai Aliansi BEM Sumbawa Menggugat Ajukan Sejumlah Tuntutan Kepada Pemda Sumbawa


Sumbawa Besar, Laskarmerdeka.com 
-
Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se Kabupaten Sumbawa Menggugat menggelar aksi unjuk rasa (Demo) damai di Kantor Bupati Sumbawa, Rabu (04/02/2026) sebagai refleksi satu tahun kepemimpinan Bupati Sumbawa Jarot–Ansori, dengan menyampaikan dan menyoroti belasan tuntutan terkait berbagai persoalan strategis daerah, mulai dari tata kelola pertambangan, kelangkaan LPG 3 Kg, pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur.

Aliansi BEM se Kabupaten Sumbawa terdiri dari BEM UTS, BEM Stikes, BEM UNSA dan  BEM STAIS dibawah koordinator umum Widarman dan Korlap I Fitrah Andiyan dalam aksi demo damai yang diterima Sekda Sumbawa itu menyoroti kelangkaan gas LPG 3 kilogram menjadi isu utama.

Dalam orasinya, mahasiswa menilai krisis LPG subsidi telah berdampak langsung pada masyarakat kecil. Di lapangan, harga LPG 3 kg dilaporkan melonjak hingga Rp  60 ribu per tabung, jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Kondisi ini diperparah dengan adanya dugaan pemotongan kuota LPG untuk Kabupaten Sumbawa.

Mahasiswa juga mempertanyakan kinerja Satuan Tugas (Satgas) LPG Kabupaten Sumbawa yang dinilai belum mampu mengendalikan distribusi dan harga gas subsidi.

“Kelangkaan dan mahalnya LPG 3 kg adalah bukti lemahnya pengawasan,” teriak salah satu orator dalam aksi tersebut.

Menanggapi tuntutan massa mahasiswa itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa, DR. H. Budi Prasetya, S.Sos., M.A.P, yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas LPG, mengakui bahwa persoalan LPG di Sumbawa saat ini mencakup dua aspek utama, yakni kelangkaan pasokan dan lonjakan harga.

“Untuk kelangkaan, pemerintah daerah telah mengusulkan penambahan kuota ke Direktorat Jenderal Migas. Perlu dipahami bahwa pengurangan kuota LPG terjadi secara nasional pada 2026, bukan hanya di Sumbawa. Meski demikian, kami justru mengajukan penambahan untuk mengatasi kondisi di daerah,” ujarnya.

Terkait tingginya harga LPG 3 kg, Sekda Budi Prasetiyp menyatakan Satgas telah melakukan langkah penertiban. Dua pangkalan LPG disebut telah ditutup, dua lainnya diusulkan untuk penutupan, sementara sembilan pangkalan diberikan teguran keras. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi juga akan dilakukan dalam waktu dekat. Namun demikian, ia mengakui keterbatasan kewenangan pemerintah daerah.

“Pencabutan izin pangkalan sepenuhnya berada di bawah kewenangan Pertamina. Jika kewenangan itu ada di daerah, pangkalan yang melanggar sudah kami tutup. Saat ini kami hanya bisa memberikan rekomendasi,” tukasnya.

Sekda juga menyinggung peran pengecer yang kerap menjadi titik terjadinya lonjakan harga, meskipun tidak termasuk dalam rantai distribusi resmi LPG subsidi. Untuk memperkuat pengawasan, Satgas mendorong penerapan pembelian LPG 3 kg menggunakan KTP yang didokumentasikan, agar data konsumen terintegrasi dengan sistem Pertamina dan penyaluran subsidi lebih tepat sasaran.

"Pemerintah daerah, membuka ruang partisipasi publik dalam pengawasan distribusi LPG. Masyarakat dan mahasiswa diminta aktif melaporkan dugaan penyimpangan melalui layanan Call Center Lapor Gas. Selain itu, Pemda Sumbawa telah mengeluarkan imbauan tegas kepada aparatur sipil negara (ASN), pegawai BUMN/BUMD, serta perangkat desa agar tidak menggunakan LPG subsidi 3 kg. Jika ditemukan pelanggaran, silakan difoto dan dilaporkan. LPG 3 kg harus benar-benar diperuntukkan bagi masyarakat miskin dan pelaku usaha mikro,” tegas Sekda Budi Prasetiyo.(AM01)

Daftar Isi

0Komentar

Formulir
Tautan berhasil disalin