Mataram, Laskarmerdeka.com -
Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Abul Chair, menekankan pentingnya Universitas Mataram (Unram) tidak hanya mengukur kemajuan dari pertumbuhan fisik, jumlah mahasiswa, dan capaian akademik, tetapi dari seberapa besar dampak dan manfaat yang diberikan kepada masyarakat.
Hal itu disampaikannya dalam Rapat Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-64 Unram, Jumat (2/10), yang juga menyoroti pentingnya kepastian hukum, integritas, kualitas sumber daya manusia, serta peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi bagi pembangunan NTB.
Menurut Sekda, ukuran kemajuan sebuah perguruan tinggi tidak semata-mata dilihat dari pertumbuhan fisik, jumlah mahasiswa, maupun indikator-indikator pembangunan lainnya. Lebih dari itu, perguruan tinggi harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Sebenarnya, seberapa besar kita tumbuh, berapa nilai indikator-indikator, setinggi apa gedungnya, berapa banyak mahasiswanya, tapi lebih kepada Unram berdampak, seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan,” ujarnya.
Aspek kebermanfaatan kerap terlupakan dalam proses pembangunan. Padahal, menurutnya, pendidikan memiliki mandat penting untuk memastikan generasi yang ditinggalkan tidak berada dalam kondisi lemah.
Ia kemudian mengutip pesan dalam Al-Qur'an yang mengingatkan agar seseorang tidak meninggalkan generasi dalam keadaan lemah, baik secara ekonomi maupun dalam aspek kehidupan lainnya. “Ini mandat buat kita semua, bukan cuma untuk kampus, tapi kepada orang tua pada umumnya,” katanya.
Abdul Chair juga mengajak seluruh pihak, untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan waktu dan pembangunan yang telah dilakukan. Ia mempertanyakan sejauh mana pembangunan tersebut telah menjawab persoalan masyarakat di sekitar.
“Tau-tau sudah 50 tahun, tau-tau sudah mau pensiun, tau-tau sudah Dies Natalis ke-64. Tapi berapa orang miskin di sekitar kita? Berapa orang bodoh di sekitar kita? Berapa orang yang masih tertinggal di sekitar kita?” katanya.
Terkait pentingnya kepastian dan penegakan hukum dalam mendukung pembangunan daerah, Sekda NTB mengibaratkan pembangunan sebagai sebuah kendaraan yang membutuhkan gas sekaligus rem. Menurutnya, penegakan hukum tidak semestinya hanya dipandang sebagai rem yang menghambat pembangunan.
“Justru hukum yang pasti, yang adil dan dapat diprediksi adalah infrastruktur penting bagi pembangunan,” tegasnya.
Menurutnya, pemerintah daerah menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara keberanian aparatur dalam mengambil keputusan dan kepatuhan terhadap aturan. “Kita tidak ingin aparatur berani mengambil keputusan tetapi mengabaikan aturan. Namun kita juga tidak ingin aparatur terlalu takut mengambil keputusan hanya karena khawatir salah,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai aparatur yang dibutuhkan adalah mereka yang berani mengambil keputusan karena memahami aturan, bukan karena tidak mengetahui aturan. Dalam konteks tersebut, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara kejaksaan, perguruan tinggi, aparat pengawasan, dan pemerintah.
“Bukan hanya hadir ketika masalah sudah terjadi, tetapi kami tentu berharap bersama-sama membangun sistem pencegahan,” katanya.
*Unram Diharapkan Jadi Rumah Penyelesaian Masalah NTB*
Abul Chair juga menyampaikan bahwa NTB memiliki beragam potensi yang dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, mulai dari pertambangan, pertanian, peternakan, kelautan, pariwisata, ekonomi kreatif hingga kekayaan budaya. Namun, potensi tersebut, menurutnya, harus diolah menjadi nilai tambah yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan, dan mendorong kesejahteraan yang lebih merata.
“Untuk itu kualitas manusia dan kualitas institusi itu menjadi sangat penting,” katanya.
Ia berharap Unram terus mengambil peran strategis dalam pembangunan NTB dengan menjadi ruang untuk mencari dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan daerah.
“Saya berharap Universitas Mataram terus menjadi rumah penyelesaian masalah di NTB, menjadi kampus yang tidak hanya menghasilkan penelitian-penelitian tetapi juga solusi, tidak hanya menghasilkan lulusan tapi juga pemimpin-pemimpin yang berintegritas,” ujarnya.
Ia juga merumuskan keterkaitan antara daya saing, investasi, kepastian hukum, dan integritas sebagai fondasi pembangunan. “Daya saing membutuhkan investasi, investasi membutuhkan kepastian, kepastian membutuhkan hukum, dan hukum membutuhkan integritas. Dan kesemuanya itu tentu kita membutuhkan ridha Tuhan Yang Maha Kuasa,” pungkasnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Mataram, Prof. Dr. Sukardi, M.Pd, mengungkapkan, saat ini Kampus Unram menempati peringkat ke-16 perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia berdasarkan pemeringkatan _Times Higher Education_ (THE). Capaian tersebut menjadi modal bagi Unram untuk terus memperkuat posisi akademik dan mendorong transformasi menuju universitas berkelas dunia.
Ia mengatakan, posisi tersebut menunjukkan kekuatan kampus, terutama pada aspek sitasi dan dampak publikasi ilmiah. Dalam aspek tersebut, Unram disebut berada pada posisi dua nasional terbaik. Namun, ia mengakui masih terdapat tantangan pada pertumbuhan jumlah publikasi dan jumlah penulis yang perlu terus ditingkatkan.
“Fokus ke depan bukan hanya menjaga kualitas, tetapi juga memastikan volume dan basis penulis tumbuh secara berkelanjutan,” ujarnya
Untuk meningkatkan posisi tersebut, Unram menyiapkan enam agenda strategis, meliputi transformasi akademik berdampak, riset dan inovasi berdampak, kolaborasi global dan KKN berdampak, program profesor berdampak, tata kelola modern dan kemandirian finansial, serta penguatan menuju _world class university_.
Berbagai agenda tersebut, lanjutnya, diarahkan untuk memperkuat kualitas riset, produktivitas publikasi, internasionalisasi, reputasi akademik, serta keberhasilan lulusan. Dengan modal yang dimiliki saat ini, Unram menargetkan pertumbuhan yang tidak hanya mempertahankan posisi dalam pemeringkatan, tetapi juga memperkuat pengakuan akademik di tingkat internasional.
Rapat Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-64 Unram tersebut dihadiri Wakil Jaksa Agung Republik Indonesia, Prof. Dr. Asep Nana Mulyana, S.H., M.Hum, Ketua, Sekretaris, dan Anggota Senat Universitas Mataram, serta Para Akademisi, Guru Besar, Civitas Akademika Universitas Mataram.(AM01)


0Komentar