TfC0GSY7TpM8TUM0TpOlBSr8Td==

Breaking News:

3.325 Balita Masih Stunting, Bupati Sumbawa Minta Semua Sektor Bergerak


Sumbawa Besar, Laskarmerdeka.com –

Pemerintah Kabupaten Sumbawa memperkuat upaya pencegahan dan penanganan stunting dengan mendorong keterlibatan seluruh sektor. Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP, menegaskan bahwa persoalan stunting tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan, tetapi membutuhkan intervensi bersama yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Penegasan tersebut disampaikan Bupati Jarot saat membuka Refreshment Training Tatalaksana Pencegahan dan Penanganan Stunting dan Malnutrisi bagi dokter dan petugas gizi puskesmas, Selasa (8/9/2026), di Ballroom La Grande Sumbawa.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam memberikan penanganan yang lebih tepat terhadap balita stunting dan malnutrisi di Kabupaten Sumbawa. Pelatihan diikuti oleh dokter dan petugas gizi dari 26 Puskesmas se-Kabupaten Sumbawa.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa H. Syarif Hidayat, SKM., MPH, para narasumber yaitu Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sumbawa, Dr. dr. Nur Aisyah, Sp.A dan Direktur PT Sarihusada Generasi Mahardika, serta dokter spesialis anak dan para fasilitator.

Dalam sambutannya, Bupati Jarot mengatakan, anak yang mengalami stunting berisiko mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan, lebih rentan terhadap penyakit, serta berpotensi memiliki tingkat produktivitas yang lebih rendah ketika dewasa. Karena itu, penanganan stunting harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan daerah.

Data yang dipaparkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa menunjukkan bahwa persoalan tersebut masih membutuhkan perhatian bersama. Angka stunting yang tercatat sekitar 25 persen pada 2023 meningkat menjadi 29 persen pada 2024. Sementara pada 2026 tercatat 3.325 balita mengalami stunting, atau meningkat sebanyak 113 balita.

Bupati Jarot menilai kondisi tersebut menjadi alarm agar seluruh pihak tidak hanya berfokus pada penanganan anak yang sudah mengalami stunting, tetapi juga memperkuat pencegahan sejak dari hulu.

Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Sumbawa selama ini telah menerapkan pendekatan konvergensi dalam percepatan pencegahan dan penurunan stunting. Tidak hanya Dinas Kesehatan, terdapat 18 perangkat daerah yang terlibat, ditambah dukungan berbagai organisasi nonpemerintah melalui program CSR.

Menurut Bupati, intervensi kesehatan harus berjalan beriringan dengan intervensi sensitif, seperti pemenuhan akses air bersih, jamban layak, jaminan kesehatan, edukasi pola asuh, serta pencegahan paparan asap rokok.

“Ketika intervensi sensitif tidak dikendalikan dengan baik, akan sulit dilakukan penanganan terhadap stunting,” ujarnya.

Persoalan sanitasi menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian. Berdasarkan laporan Kepala Dinas Kesehatan, masih terdapat sekitar 6,7 persen masyarakat yang akses jambannya masih menumpang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan stunting tidak cukup dilakukan melalui layanan medis, tetapi juga harus menyentuh lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang.

Bupati Jarot juga menekankan pentingnya edukasi kepada orang tua mengenai pola asuh dan pemenuhan kebutuhan anak. Menurutnya, pemahaman keluarga mengenai gizi, kesehatan dan pola asuh harus terus diperkuat secara masif dan berkelanjutan.

Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan H. Syarif Hidayat menyampaikan bahwa keterbatasan fiskal daerah menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan program. Karena itu, berbagai inovasi terus dilakukan untuk menjaga efektivitas pelayanan, salah satunya melalui pemanfaatan aplikasi telemedicine.

Ia juga mengungkapkan bahwa kebutuhan anggaran penanganan satu anak stunting diperkirakan mencapai sekitar Rp. 4,1 juta. Dengan jumlah balita stunting yang mencapai ribuan, kondisi ini menunjukkan pentingnya memperkuat upaya pencegahan agar kasus baru dapat ditekan.

“Karena itu yang menjadi pekerjaan rumah kita adalah intervensi sensitif yang melibatkan multisektor,” jelas H. Syarif.

Bupati Jarot menilai peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi langkah penting dalam memperkuat penanganan stunting di tingkat lapangan. Dokter dan petugas gizi puskesmas merupakan garda terdepan yang berhadapan langsung dengan masyarakat dan memiliki peran penting dalam mendeteksi serta menangani persoalan gizi anak.

Bupati Jarot pun memberikan apresiasi kepada seluruh tenaga kesehatan, mulai dari Dinas Kesehatan, rumah sakit hingga puskesmas, yang selama ini terus memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Jarot juga menyampaikan apresiasi kepada PT Sarihusada Generasi Mahardika atas dukungannya kepada Kabupaten Sumbawa selama tiga tahun terakhir, termasuk melalui dukungan CSR untuk peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam penanganan balita stunting.

“Semoga ke depannya kita masih akan terus meningkatkan kerja sama, khususnya dalam percepatan penurunan stunting di Kabupaten Sumbawa,” harapnya.(AM01)

Daftar Isi

0Komentar

Formulir
Tautan berhasil disalin