Mataram, Laskarmerdeka.com -
[24 Februari 2026 ] - Tahun 2025 menandai babak baru pembangunan sektor kelautan dan perikanan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dalam tahun pertama kepemimpinan Iqbal–Dinda, sektor ini tidak lagi sekedar dikelola sebagai penghasil komoditas primer, tetapi mulai diposisikan sebagai fondasi industri agrokemaritiman yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Periode ini menjadi fase konsolidasi sekaligus akselerasi. Selain sebagai tahun awal implementasi RPJMD 2025–2029, 2025 juga menjadi momentum penguatan struktur produksi, peningkatan kesejahteraan pelaku usaha, serta integrasi antara produktivitas ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
𝐏𝐫𝐨𝐝𝐮𝐤𝐬𝐢 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐮𝐚𝐭, 𝐒𝐭𝐫𝐮𝐤𝐭𝐮𝐫 𝐒𝐞𝐤𝐭𝐨𝐫 𝐒𝐞𝐦𝐚𝐤𝐢𝐧 𝐓𝐞𝐫𝐤𝐨𝐧𝐬𝐨𝐥𝐢𝐝𝐚𝐬𝐢
Secara agregat, produksi perikanan 2025 terealisasi sebesar 1.252.719,60 ton, melampaui target tahunan dan tumbuh 2,96 persen dibanding 2024. Kinerja ini menegaskan bahwa pertumbuhan tidak lagi bersifat sporadis, melainkan berbasis stabilisasi sistem produksi di tingkat nelayan dan pembudidaya.
Subsektor perikanan budidaya mencapai 997.210,64 ton, melampaui target dan meningkat 1,66 persen secara tahunan. Walaupun pertumbuhannya moderat, capaian ini terjadi pada basis produksi yang sangat besar, mendekati satu juta ton sehingga secara substansial mencerminkan penguatan struktur budidaya. Stabilitas produksi udang dan rumput laut, disertai membaiknya efisiensi usaha, menunjukkan keberhasilan pembinaan teknis serta mulai terintegrasinya produksi dengan orientasi pasar.
Sementara itu, perikanan tangkap terealisasi sebesar 255.508,96 ton, tumbuh 2,79 persen dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini merefleksikan stabilisasi aktivitas penangkapan dan optimalisasi sarana produksi, sekaligus menandakan bahwa peningkatan output tetap berada dalam koridor keberlanjutan sumber daya ikan.
𝐊𝐞𝐬𝐞𝐣𝐚𝐡𝐭𝐞𝐫𝐚𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐚𝐡𝐚 𝐌𝐞𝐦𝐛𝐚𝐢𝐤
Dari sisi ekonomi rumah tangga perikanan, Nilai Tukar Perikanan (NTP) tahun 2025 tercatat 106,82, meningkat 1,23 poin dibanding 2024 dan jauh melampaui target.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa harga yang diterima nelayan dan pembudidaya tumbuh lebih cepat dibanding biaya yang mereka keluarkan. Secara makro sektoral, kondisi tersebut mencerminkan stabilisasi kesejahteraan pelaku usaha sekaligus memperkuat bukti bahwa pertumbuhan produksi berjalan seiring dengan perbaikan margin usaha.
𝐄𝐤𝐨𝐬𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦 𝐋𝐚𝐮𝐭 𝐃𝐢𝐣𝐚𝐠𝐚, 𝐏𝐫𝐨𝐝𝐮𝐤𝐬𝐢 𝐓𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐓𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡
Indikator keberlanjutan lingkungan juga menunjukkan kemajuan. Luas ekosistem perairan laut berstatus baik pada 2025 mencapai 14.528 hektare, meningkat dibanding 2024 dan melampaui target.
Capaian ini didukung oleh pengelolaan 12 kawasan konservasi perairan melalui tiga BLUD Balai Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan. Peningkatan kualitas ekosistem ini menegaskan bahwa konsolidasi pertumbuhan sektor perikanan berjalan selaras dengan prinsip kehati-hatian ekologis.
𝐅𝐨𝐧𝐝𝐚𝐬𝐢 𝐑𝐞𝐠𝐮𝐥𝐚𝐬𝐢 𝐃𝐢𝐩𝐞𝐫𝐤𝐮𝐚𝐭
Transformasi sektor semakin kokoh dengan ditetapkannya Peraturan Daerah Provinsi NTB Nomor 14 Tahun 2025 tentang Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Berkelanjutan. Regulasi ini memperjelas kewenangan provinsi dalam pengelolaan laut hingga 12 mil, memperkuat sistem perizinan berbasis risiko, pengelolaan kawasan konservasi, serta mekanisme pengawasan.
Dengan payung hukum ini, arah hilirisasi industri perikanan ditegaskan berjalan seiring dengan daya dukung lingkungan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
𝐇𝐢𝐥𝐢𝐫𝐢𝐬𝐚𝐬𝐢 𝐌𝐮𝐥𝐚𝐢 𝐁𝐞𝐫𝐠𝐞𝐫𝐚𝐤: 𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐁𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐁𝐚𝐤𝐮 𝐤𝐞 𝐍𝐢𝐥𝐚𝐢 𝐓𝐚𝐦𝐛𝐚𝐡
Tahun 2025 juga menjadi titik awal pergeseran struktur ekonomi sektor kelautan melalui penguatan hilirisasi. Beroperasinya pabrik garam di Kabupaten Bima mengubah pola ekonomi lokal dari sekadar produksi bahan baku menuju penciptaan nilai tambah di daerah.
Dampaknya terasa pada peningkatan pendapatan petambak, penciptaan lapangan kerja, stabilisasi harga, serta berkurangnya ketergantungan pasokan dari luar daerah, sebuah langkah konkret membangun rantai nilai agrokemaritiman.
Pada komoditas unggulan udang, pemerintah daerah juga menyiapkan Feasibility Study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) pembangunan pabrik pengolahan terintegrasi dengan pelabuhan perikanan. Upaya ini disertai dukungan kebijakan investasi berupa penyediaan lahan, fasilitasi perizinan, dan insentif fiskal, menandakan bahwa strategi hilirisasi tidak berhenti pada perencanaan teknis, tetapi diarahkan menjadi ekosistem investasi yang nyata.
𝐓𝐚𝐡𝐮𝐧 𝐓𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐁𝐚𝐥𝐢𝐤
Secara komprehensif, hampir seluruh indikator utama 2025 menunjukkan perbaikan dibanding 2024: produksi meningkat hampir 3 persen, subsektor budidaya dan tangkap tumbuh positif, NTP menguat, serta kualitas ekosistem laut membaik.
Jika 2024 dapat dipandang sebagai fase stabilisasi, maka 2025 mencerminkan konsolidasi yang lebih matang dan terarah, dengan fondasi regulasi yang kuat serta orientasi pembangunan yang semakin terintegrasi antara produktivitas, nilai tambah, dan keberlanjutan.
Dengan demikian, tahun 2025 layak diposisikan sebagai titik balik sektor kelautan dan perikanan NTB: sebuah fase transisi dari sekedar pertumbuhan kuantitas menuju transformasi tata kelola industri agrokemaritiman yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.(AM01)


0Komentar