Sumbawa Besar, Laskarmerdeka.com -
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi ini ditandai dengan tinggi badan anak yang berada di bawah standar kurva pertumbuhan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Oleh karena itu, Pemda Sumbawa melalui Dinas Kesehatan pada tahun 2026 ini terus bertekad untuk menurunkan angka stunting dengan target 4% (persen) ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa H.Sarip Hidayat SKM.M.AP dalam keterangan Persnya, Senin (27/07/2026).
Dijelaskan, dari hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan hingga Juli 2026 ini, Dikes Sumbawa berhasil merealisaskan anggaran 57,59%, baik itu untuk menunjang kegiatan program fisik terhadap program rehabilitasi 3 Pustu di Desa Labuan Sangoro Plampang berupa pembenahan pagar dengan progres fisik telah mencapai 50 % , di Desa Telaga Lenangguar ganti atap Pustu telah tuntas fisik 100% dan perbaikan atap Pistu Lito Moyo Hulu dengan progres fisik 50%, seluruhnya optimis dituntaskan hingga Agustus mendatang, dimana rata-rata biaya rehabilitasi Pustu dari bantuan APBD 2026 sebesar Rp 69 Juta/Pustu ujarnya.
"Selain program fisik, ada pula program non fisik meliputi kegiatan Pengawasan dan Perencanaan, program pengendalian penyakit, penurunan stunting, kematian Ibu dan bayi, peningkatan kapasitas petugas, dan sejauh ini belum ada peningkatan kasus penyakit tertentu dari data pemantauan penyakit (Surveylen), dengan target penurunan stunting 4% dari 29% sesuai SSGI atau dari 10,6% Elektronik Pencatatan pelaporan berbasis gizi masyarakat (EPPBGM) Triwulan 1 tahun 2026," papar Sarip Hidayat.
Menurutnya, penyebab Utama Stunting adalah akibat Kurang Gizi Kronis: Asupan nutrisi yang tidak memadai dalam waktu lama, terutama kekurangan protein hewani, zat besi, dan zink. Infeksi Berulang: Penyakit seperti diare atau infeksi saluran pernapasan yang terjadi terus-menerus dan mengganggu penyerapan gizi anak. Masa 1.000 HPK yang Buruk: Masalah gizi yang dimulai sejak janin dalam kandungan (ibu hamil kurang gizi atau anemia) hingga anak berusia 2 tahun.
Sedangkan dampak jangka panjang,
Kecerdasan Menurun: Hambatan perkembangan otak yang berdampak pada kemampuan belajar dan prestasi anak.
Risiko Penyakit Kronis: Lebih rentan terserang penyakit metabolik seperti diabetes, obesitas, dan penyakit jantung di usia dewasa. Produktivitas Rendah: Penurunan kapasitas fisik dan mental yang memengaruhi kemampuan bekerja saat dewasa.
Cara Pencegahannya : Pemenuhan Gizi Ibu Hamil: Memberikan makanan bergizi seimbang dan suplemen zat besi bagi ibu hamil serta calon ibu. Pemberian ASI dan MPASI Tepat: Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dilanjutkan dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang kaya protein hewani. Sanitasi dan Kebersihan: Menyediakan akses air bersih, memperbaiki sanitasi lingkungan, dan rutin melakukan imunisasi lengkap, ujarnya.(AM01)


0Komentar