Mataram, Laskarmerdeka.com -
[22Februari 2026] - Dari pesona alamnya, ruang konvensi, hingga beranda rumah penduduk, denyut pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) kini terasa lebih utuh. Mengalir dari panggung MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) ke nadi ekonomi masyarakat secara langsung. Dibalik geliat itu, Pemerintah Provinsi NTB menegaskan komitmennya agar pariwisata tidak tumbuh meninggalkan jejak kerusakan. Setiap langkah pembangunan pariwisata diarahkan pada prinsip berkelanjutan.
Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal menegaskan pembangunan ekonomi dan pariwisata NTB mesti berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan.
Hal tersebut tercermin dalam tahun pertama pemerintahan Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Hj. Indah Dhamayanti Putri, S.E., M.IP. Waktu yang singkat untuk membuktikan semangat kerja di tengah fluktuasi destinasi nasional. Namun, Provinsi NTB berhasil membuktikan capaiannya tak hanya berbicara soal jumlah kunjungan wisatawan melalui sektor MICE, tetapi juga kualitas wisatawan, matangnya penyelenggaraan event, dampak ekonomi yang dihasilkan bagi masyarakat lokal, serta kelestarian alam melalui pariwisata berkelanjutan.
Gubernur Iqbal menegaskan komitmennya menjadikan NTB sebagai destinasi kelas dunia melalui sektor MICE sebagai strategi unggulan dalam menggenjot pertumbuhan pariwisata. Langkah ini tak sekadar memperbanyak agenda pertemuan dan pameran, tetapi membangun ekosistem wisata berbasis event yang berdampak luas bagi masyarakat.
Miq Iqbal, sapaan Gubernur NTB, menyatakan penguatan MICE merupakan strategi sadar untuk meningkatkan kualitas kunjungan wisata, bukan hanya kuantitas.
“Kita ingin pariwisata NTB naik kelas. MICE adalah instrumen strategis untuk mendatangkan wisatawan berkualitas, memperpanjang lama tinggal, dan menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan,” ujar Gubernur NTB.
*NTB Kian Mantap sebagai Episentrum Event 2025–2026*
Melalui sektor MICE, Pemprov NTB terus menegaskan posisinya sebagai bagian dari pusat sport tourism dan event internasional di Indonesia. Sepanjang 2025 hingga 2026, berbagai ajang bergengsi nasional dan dunia digelar pada sejumlah destinasi unggulan, terutama kawasan Mandalika di Lombok.
Pada 2025, NTB menjadi tuan rumah Festival Olahraga Masyarakat Nasional VIII (Fornas VIII) yang menghadirkan ribuan pegiat olahraga masyarakat dari seluruh Indonesia. Pada sektor motorsport, ajang dunia MotoGP Indonesia kembali dilaksanakan di Sirkuit Mandalika dan menyedot perhatian penggemar balap internasional. Tak hanya olahraga, NTB juga menggelar Indonesia Gastrodiplomacy Series 2025 yang mempertemukan diplomasi dan promosi kuliner daerah di panggung global. Sepanjang tahun, puluhan agenda pariwisata daerah turut memperkuat target kunjungan wisatawan.
Memasuki 2026, kalender event NTB semakin padat. Ajang lari berskala nasional dan internasional, Pocari Sweat Run Lombok, dijadwalkan kembali berlangsung di Mandalika. Dunia balap mobil internasional hadir pula melalui GT World Challenge Asia, memperkuat citra NTB sebagai destinasi motorsport kelas dunia. Pada sisi budaya, tradisi tahunan Bau Nyale Festival tetap menjadi magnet wisata yang memadukan kearifan lokal dan daya tarik pariwisata.
Rangkaian event tersebut menjadi bukti konsistensi NTB dalam membangun ekosistem pariwisata berbasis event. Sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, UMKM, dan promosi budaya ke tingkat nasional maupun global.
*Menggenjot Lama Tinggal dan Belanja Wisatawan*
Tantangan pariwisata NTB adalah rata-rata lama tinggal wisatawan yang masih relatif singkat. Melalui MICE, pemerintah mendorong agar peserta kegiatan tak hanya datang untuk menghadiri forum, tetapi juga menikmati destinasi wisata.
Strategi yang disiapkan meliputi integrasi paket wisata pra dan pasca-event, pelibatan desa wisata dan pelaku ekonomi kreatif, serta penyusunan kalender event sepanjang tahun. Gubernur NTB menekankan keberhasilan MICE bukan diukur dari banyaknya agenda, melainkan dampak ekonominya.
“Target kita bukan sekadar ramai. Adapun yang kita kejar adalah multiplier effect. Setiap kegiatan harus memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Pemerintah Provinsi NTB juga memperkuat sinergi dengan kementerian, asosiasi perhotelan, pelaku event organizer, serta dunia usaha untuk aktif melakukan bidding berbagai kegiatan nasional dan internasional. Pada sisi lain, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi prioritas, termasuk pelatihan hospitality, manajemen event, dan sertifikasi profesi.
Langkah ini sekaligus menempatkan NTB sebagai destinasi MICE yang memiliki diferensiasi kuat. Perpaduan antara profesionalitas penyelenggaraan acara dan pengalaman wisata berbasis alam dan budaya. Dengan strategi tersebut, NTB menargetkan pertumbuhan kunjungan wisata yang lebih stabil, peningkatan okupansi hotel sepanjang tahun, serta penguatan citra daerah sebagai destinasi kelas dunia.
“NTB memiliki alam yang indah dan masyarakat yang ramah. Dengan MICE, kita bukan hanya mengundang orang datang, tetapi mengajak mereka kembali dengan pengalaman yang berkesan,” tandasnya.
Melalui penguatan sektor MICE, NTB melangkah mantap membangun pariwisata yang tak hanya indah dipandang, tetapi juga kokoh sebagai penggerak ekonomi daerah yang dampaknya dirasakan langsung masyarakat.
Capaian Pariwisata Provinsi NTB di Tahun Pertama Iqbal-Dinda
Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat, tingkat hunian kamar hotel bintang sepanjang 2025 menunjukkan tren stabil dan meningkat pada periode penyelenggaraan event. Pada Oktober 2025, okupansi hotel bintang mencapai 43,51 persen. Angka tersebut merefleksikan geliat pertemuan, konferensi, dan pameran yang tersebar di Lombok maupun Sumbawa. Kepala BPS Provinsi NTB dalam keterangannya menyebutkan pola peningkatan hunian kamar berkorelasi dengan agenda MICE.
“Kegiatan meeting dan event berskala nasional maupun internasional memberikan kontribusi signifikan terhadap tingkat hunian hotel. Dampaknya terasa langsung pada pergerakan tamu dan lama tinggal,” ujarnya.
Rata-rata lama tinggal tamu hotel berbintang yang mendekati dua hari menjadi sinyal positif. Artinya, peserta event tak sekadar datang untuk rapat, tetapi juga memperpanjang masa tinggal untuk menikmati destinasi wisata sekitar—mulai dari pantai, desa wisata, hingga pusat ekonomi kreatif. Capaian NTB tak berhenti pada angka-angka okupansi. Dibalik ruang-ruang konferensi dan ballroom hotel, terdapat komitmen yang lebih besar yaitu menjadikan pariwisata sebagai aspek yang berkelanjutan.
Konsep sustainable tourism mulai diterapkan secara lebih terstruktur pada 2025. Sejumlah venue MICE mendorong pengurangan plastik sekali pakai, penggunaan produk lokal dalam konsumsi acara, serta pelibatan UMKM dan komunitas desa wisata sebagai bagian dari rangkaian kegiatan. Event-event besar tak lagi berdiri terpisah dari masyarakat, melainkan terhubung langsung dengan ekonomi lokal.
Pada kawasan Gili dan pesisir selatan Lombok, pelaku industri pariwisata semakin aktif dalam kampanye kebersihan laut dan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Upaya ini memperkuat citra NTB sebagai destinasi yang tak hanya indah, tetapi bertanggung jawab pula terhadap lingkungan.
Pasar domestik tetap menjadi penopang utama sepanjang 2025, dengan pergerakan wisatawan nusantara yang berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi daerah. Sementara itu, kunjungan wisatawan mancanegara melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid menunjukkan tren positif menjelang akhir tahun, seiring meningkatnya event internasional dan promosi destinasi hijau NTB di berbagai forum.
Bagi Pemprov NTB, keberhasilan sektor MICE bukan semata soal banyaknya agenda yang terselenggara, tetapi tentang efek berganda (multiplier effect) yang ditimbulkannya. Setiap konferensi membawa peluang bagi hotel, penyedia transportasi, penyelenggara acara, UMKM kuliner, perajin lokal, hingga pemandu wisata.
Tahun 2025 dengan demikian menjadi babak penting dalam transformasi pariwisata NTB. Dari ruang-ruang rapat yang penuh diskusi hingga pantai-pantai yang dijaga kelestariannya, NTB memperlihatkan bahwa pertumbuhan dan keberlanjutan, bukanlah dua kutub yang saling bertentangan.
Di tengah dinamika industri pariwisata nasional, NTB menegaskan posisinya sebagai destinasi MICE sekaligus laboratorium wisata berkelanjuta. Tempat pertemuan bisnis, keindahan alam, dan komitmen terhadap lingkungan berjalan beriringan.
*Dampak Langsung Masyarakat*
Setiap agenda besar yang digelar di NTB dalam satu tahun terakhir tak lagi sekadar menjadi tontonan atau seremoni olahraga. Dibalik ramainya tribun dan padatnya ruang konvensi, sektor MICE terbukti menghadirkan dampak ekonomi langsung yang dirasakan masyarakat, terutama pelaku UMKM lokal.
Penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 di kawasan Mandalika, yang merupakan bagian dari kalender MotoGP, mencatat sekitar lebih dari 140 ribu penonton sepanjang akhir pekan balapan.
Selama periode tersebut, okupansi hotel di zona Mandalika dilaporkan mencapai 100 persen, sementara tingkat hunian hotel di Pulau Lombok berada di atas 90 persen. Estimasi perputaran ekonomi selama ajang tersebut, mencapai sekitar Rp4,8 triliun, tersebar pada sektor akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga produk ekonomi kreatif. Ribuan tenaga kerja lokal terlibat langsung dalam operasional acara, dan ratusan UMKM diberi ruang berjualan di dalam dan sekitar kawasan sirkuit.
Dampak serupa juga terlihat saat penyelenggaraan Fornas VIII 2025 di NTB, momentum sport tourism besar dan berdampak langsung pada ekonomi masyarakat. Ajang yang diikuti lebih dari 18.000 peserta dari 38 provinsi itu mendorong perputaran ekonomi lebih dari Rp800 miliar. Aktivitas peserta dan pendamping yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota memicu lonjakan permintaan hotel, transportasi, konsumsi, hingga jasa pendukung lainnya.
Dampaknya terasa hingga ke pelaku usaha kecil. Selama Fornas berlangsung, ribuan tenaga kerja lokal terlibat, baik secara formal maupun informal, dengan estimasi sekitar 9.500 lapangan kerja sementara, tercipta. Sektor ritel dan pusat perbelanjaan di Mataram mencatat pula kenaikan kunjungan sekitar 11 persen, dengan peningkatan pendapatan dilaporkan melonjak hingga 80–100 persen dibandingkan periode normal. UMKM kuliner, penyedia cendera mata dan jasa transportasi menjadi pihak yang paling merasakan peningkatan transaksi.
Efek serupa terlihat pula pada penyelenggaraan Pocari Sweat Run Lombok 2025 yang dipusatkan di kawasan Mandalika. Event lari tersebut diikuti lebih dari 9.000 pelari dari ratusan kota di Indonesia. Kehadiran peserta dan pendamping tak hanya memadati arena lomba, tetapi juga mendorong okupansi hotel dan penginapan di Lombok. Data mencatat terjadi peningkatan jumlah penumpang di Bandara Lombok sekitar 3 persen selama periode kegiatan berlangsung.
Penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 di kawasan Mandalika, yang merupakan bagian dari kalender MotoGP, mencatat sekitar lebih dari 140 ribu penonton sepanjang akhir pekan balapan.
Selama periode tersebut, okupansi hotel di zona Mandalika dilaporkan mencapai 100 persen, sementara tingkat hunian hotel di Pulau Lombok berada di atas 90 persen. Estimasi perputaran ekonomi selama ajang tersebut, mencapai sekitar Rp4,8 triliun, tersebar pada sektor akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga produk ekonomi kreatif. Ribuan tenaga kerja lokal terlibat langsung dalam operasional acara, dan ratusan UMKM diberi ruang berjualan di dalam dan sekitar kawasan sirkuit.
Dampak serupa juga terlihat saat penyelenggaraan Fornas VIII 2025 di NTB, momentum sport tourism besar dan berdampak langsung pada ekonomi masyarakat. Ajang yang diikuti lebih dari 18.000 peserta dari 38 provinsi itu mendorong perputaran ekonomi lebih dari Rp800 miliar. Aktivitas peserta dan pendamping yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota memicu lonjakan permintaan hotel, transportasi, konsumsi, hingga jasa pendukung lainnya.
Dampaknya terasa hingga ke pelaku usaha kecil. Selama Fornas berlangsung, ribuan tenaga kerja lokal terlibat, baik secara formal maupun informal, dengan estimasi sekitar 9.500 lapangan kerja sementara, tercipta. Sektor ritel dan pusat perbelanjaan di Mataram mencatat pula kenaikan kunjungan sekitar 11 persen, dengan peningkatan pendapatan dilaporkan melonjak hingga 80–100 persen dibandingkan periode normal. UMKM kuliner, penyedia cendera mata dan jasa transportasi menjadi pihak yang paling merasakan peningkatan transaksi.
Efek serupa terlihat pula pada penyelenggaraan Pocari Sweat Run Lombok 2025 yang dipusatkan di kawasan Mandalika. Event lari tersebut diikuti lebih dari 9.000 pelari dari ratusan kota di Indonesia. Kehadiran peserta dan pendamping tak hanya memadati arena lomba, tetapi juga mendorong okupansi hotel dan penginapan di Lombok. Data mencatat terjadi peningkatan jumlah penumpang di Bandara Lombok sekitar 3 persen selama periode kegiatan berlangsung.
Pemerintah daerah memperkirakan dampak ekonomi dari Pocari Sweat Run 2025 menembus lebih dari Rp50 miliar, terutama dari sektor konsumsi, akomodasi, transportasi, dan belanja produk lokal. Rangkaian event ini memperlihatkan pola yang sama. Agenda olahraga berskala nasional digelar, manfaatnya tak berhenti di arena pertandingan, tetapi menjalar ke warung makan, penginapan keluarga, penyedia jasa kendaraan, hingga perajin lokal. Bagi masyarakat NTB, sport tourism kini menjadi suatu penggerak nyata ekonomi daerah yang dirasakan langsung di tingkat akar rumput.
Data BPS NTB menunjukkan pada Oktober 2025 tingkat hunian kamar hotel bintang di NTB mencapai 43,51 persen, dengan lebih dari 120 ribu tamu tercatat menginap dalam satu bulan. Rata-rata lama tinggal yang mendekati dua hari menjadi indikator event-event besar berkontribusi terhadap pergerakan ekonomi yang lebih meluas.
Rangkaian event tersebut memperlihatkan pola yang sama: setiap kegiatan MICE dan sport tourism menciptakan efek berganda. Hotel terisi, penerbangan bertambah, kendaraan sewa laris, warung makan ramai, dan produk kerajinan lokal lebih banyak terjual. Bagi masyarakat NTB, terutama UMKM, event tidak lagi sekadar agenda tahunan, melainkan momentum nyata untuk meningkatkan pendapatan dan memperluas pasar.
Dalam konteks inilah, sektor MICE di NTB berkembang bukan hanya sebagai strategi mendatangkan wisatawan, tetapi sebagai instrumen penguatan ekonomi lokal. Menghubungkan panggung event berskala nasional dan global dengan dapur-dapur UMKM berbagai pelosok desa dan sudut kota.(AM01)


0Komentar